Welcome!!

Rabu, 06 April 2011

RESENSI NOVEL "KARMILA" - MARGA T.


Ø  Judul Buku                 :           Karmila
Ø  Pengarang                  :           Marga T.
Ø  Penerbit                     :           PT. Gramedia Pustaka Utama
Ø  Tahun Terbit              :           1970
Ø  Jumlah Halaman         :           432 halaman

Marga Tjoa lahir di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1943. Ia lebih dikenal dengan nama Marga T. Ia merupakan salah seorang pengarang Indonesia yang paling produktif. Ia seorang dokter lulusan Universitas Trisakti, Jakarta. Sejak duduk di bangku SMA, Ia sudah mulai mengarang roman populer untuk majalah sekolahnya. Namanya mulai dikenal pada tahun 1971 lewat cerita bersambungnya, Karmila yang kemudian dibukukan dan difilmkan. Sejak kecil Marga telah banyak menulis. Karangan-karangannya mula-mula dimuat di majalah sekolahnya. Pada usia 21 tahun, ia menghasilkan cerita pendeknya yang pertama, Kamar 27, yang kemudian disusul oleh bukunya yang pertama, Rumahku adalah Istanaku, sebuah cerita anak-anak, yang diterbitkan pada 1969.
Sebagai penulis, Marga adalah seorang pekerja keras. Ia dapat menghabiskan waktu empat hingga lima jam sehari dalam mengarang. Kedisiplinannya juga tampak dari kegiatannya membaca apa saja. "Masyarakat berhak memilih bacaan yang disukainya, tapi penulis tidak. Ia harus membaca tulisan siapa pun," begitu prinsip Marga. Karena itu ia rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli novel. Novelnya yang paling mutakhir, "Sekuntum Nozomi", buku ketiga, yang terbit pada 2004, mengangkat kisah seputar tragedi Mei 1998 yang menelan banyak korban khususnya dikalangan kaum perempuan keturunan Tionghoa.
Hingga kini, Marga T. telah menerbitkan 128 cerita pendek dan 67 buku (untuk anak-anak, novel serta kumpulan cerpen). Daftar berikut ini memuat sebagian dari karya Marga Tjoa: Sekuntum Nozomi (Buku kesatu hingga keempat, 2002-2006), Dibakar Malu dan Rindu (2003), Dipalu Kecewa dan Putus Asa (2001), Amulet dari Nubia (1999), Dicabik Benci dan Cinta (1998), Didera Sesal dan Duka (1998), Matahari Tengah Malam (1998), Melodi Sebuah Rosetta (1996), Dikejar Bayang - Bayang (1995), Sepagi Itu Kita Berpisah (1994), Rintihan Pilu Kalbuku (1992), Seribu Tahun Kumenanti (1992), Berkerudung Awan Mendung (1992), Sonata Masa Lalu (1991), Bukan Impian Semusim (1991), Namamu Terukir di Hatiku (1991), Istana di Kaki Langit (1990), Petromarin (1990), Waikiki Aloha: Kumpulan Satir (1990), Kobra Papageno: Manusia Asap dari Pattaya (1990), Kobra Papageno: Rahasia Kuil Ular (1989), Di Hatimu Aku Berlabuh (1988), Ketika Lonceng Berdentang: Cerita Misteri (1986), Kishi: Buku Kedua Trilogi (1987), Batas Masa Silam: Balada Sungai Musi (1987), Oteba: Buku Ketiga Trilogi (1987), Ranjau - Ranjau Cinta (1987), Sekali Dalam 100 Tahun: Kumpulan Satir (1988), Tesa (1988), Sembilu Bermata Dua (1987), Setangkai Edelweiss (Sambungan Gema Sebuah Hati, 1987), Untukmu Nana (1987), Saskia: Sebuah Trilogi (1987), Bukit Gundaling (1984), Rahasia Dokter Sabara (1984), Saga Merah (1984), Fatamorgana (1984), Monik: Sekumpulan Cerpen (1982), Sebuah Ilusi (1982), Lagu Cinta: Kumpulan Cerpen (1979), Sepotong Hati Tua (1977), Bukan Impian Semusim (1976), Gema Sebuah Hati (1976), Badai Pasti Berlalu (1974), Karmila (1971,dibukukan 1973),Rumahku adalah Istanaku (1969).
Novel "Karmila" telah dicetak berulang kali sehingga ia dapat mengumpulkan uang untuk mengunjungi Eropa, suatu pengalaman yang ingin didapatkannya sebelum ia terikat sebagai dokter. Namun dalam kunjungannya ke Eropa itulah ia bertemu dengan seorang insinyur teknik kimia, sesama alumnus Trisakti, yang kemudian menjadi suaminya.
Karmila adalah seorang wanita berasal dari keluarga baik-baik, ia dibesarkan di asrama Kesusteran, suatu hari ia diajak oleh seorang temannya pergi ke sebuah pesta ulang tahun temannya. Sebenarnya ia tidak berminat menghadiri pesta itu, karena ia merasa gelisah memikirkan tunangannya, surat yang dikirimnya belum ada balasannya dari Australia, tetapi temannya itu tetap saja memaksanya supaya ikut, akhirnya ia pun ikut ke pesta itu meskipun perasaannya sedang gelisah. Pesta yang sangat meriah dan banyak para undangan, tanpa terasa malam pun semakin larut dan suasana pun semakin hening, tetapi ke semua itu tidak merubah suasana daalam pesta tersebut. Dalam arloji ternyata sudah menunjukan pukul dua, akhirnya karmila mengajak Ana untuk pulang, karena Karmila merasa sudah ngantuk sekali tapi Ana tidak menghiraukan ajakannya, malah Ana menyuruh Karmila untuk tidur dirumah itu, karena ia merasa sudah mengantuk sekali, akhirnya apa yang dikatakan oleh temannya itu diturutinya. Ia tidak tahu pukaul berapa terbangun karena disekitar kamar itu sangat gelap sekali, diulurkannya tangan untuk mengamgil arloji teatpi ia tidak bisa melihat arlloji itusama sekali, badannya terasa panas, jantungnya berdebar-deba perasaannya tidak enak sekali dan mulutnya nerasa terbakar. Ketika itu beranjak turun dari tempat tidurnya, tanpa disadarinya ternyata di dalam kamar itu ada seorang pemuda yang badannya penuh dengan bau alcohol dan dalam keadaan mabuk, Karmila berdiri kaku, ia sangat takut sekali, ia tahu bahwa bahaya akan mengancamnya, akhirnya peristwa itu terjadilah. Tiga hari kemudian setelah kejadian itu, semua Koran ibukota memuat sebuah pesta amoral yang terjadi dijalan S. “Anak bapak DG memperkosa mahasiswi kedokteran, putera seorang pembesar tertangkap basah memakai obat perangsang”. Kemudian dibacanya berulang-ulang, dengan tidak jemunya Bapak Daud terus membuka halaman lain ternyata benar bahwa anaknya yang bernama Faisal telah ditahan oleh polisi karena tuduhan menganiaya dan memperkosa gadis bernama Karmila, hatinya merasa teriris-iris setelah membaca koran itu. Selain keluarga Faisal yang mersa malu akibat ulah anaknya itu yang lebih merasa malu lagidan merasa tertekan adalah Karmila yang telah menjadi korban anak Bapak Daud. Karena keluarga Karmila tidak ingin memperpanjang perkara akhirnya Faisal dibebaskan dari penjara dan dilepaskan dari segala tuduhan asalkan Faisal mau bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Setelah dibebaskan dari penjara dan dari segala tuduhan, Faisal sadar bahwa dirinya telah menodai dan menghancurkan segala yang diimpikannya sejak ia masih kecil. Ia merasa bersalah dan merasa baerdosa sekali, ia menebus segala kesalahannya yang telah diperbuatnya itudengan cara menikahi gadis itu. Akhirnya mereka menikah, meskipun pada mulanya Karmila tidak ingin menikah dengan lelaki yang telah menghancurkan hidupnya itu, tetapi bagaimana dengan anaknya kalau lahir nanti. Setelah menikah Karmila melanjutkan lagi sekolah kedokterannya yang selama ini tertunda, sampai akhirnya ia mendapatkan sebuah ijazah kedokteran. Karmila merasa senang dan gembira sekali ternyata apa apa yang diinginkanya selama ini tercapai juga meskipun ia harus mengalami musibah terlebih dahulu. Karmila, Faisal beserta anaknya Fani mereka bertiga hidup bahagia sekali, mereka tinggal di rumah Kemayoran yang dibeli oleh Faisal untuk Karmila. Karmila sangat bahagia, apalagi sekarang ia sudah menjadi seorang dokter dan ia membuka praktek di rumahnya, setiap sore ia mulai membuka prakteknya itu, disela-sela kebahagiaannya itu ia selalu ingat akan tunangannya yang dulu yang ia sangat cintai bahkan ia berharap akan menikah dengannya tapi musibah duluan yang telah menghancurkan semuanya itu. Ia mencoba untuk menghapus semua masalah dan semua kenangan waktu bersama tunangannya, tetapi semua itu membutuhkan waktu yang lama sekali, hingga suatu hari ia baru bisa melupakannya karena ia menyadari bahwa semua itu tidak akan ada artinya lagi buatnya, yang ia pikirkan sekarang ini hanya Faisal saja, ia hanya ingin cinta dan kasih sayangnya dari Faisal tanpa dari orang ketiga. Ditengah kebahagiaannya itu, datanglah Edo bekas tunangannya, semenjak kedatangan Edo kebahagiaan dalam rumah tangga Karmila semakin berkurang, Edo berusaha untuk menghancurkan kebahagiaan Karmila dengan cara meracuni segala pikiran Karmila dan berusaha untuk mencintainya lagi, hingga pada suatu hari hamper Karmila terbujuk dan percaya akan semua omongan-omongan Edo. Tetapi Karmila yakin bahwa suaminya tidak mungkin melakukan hal seperti yang apa yang dikatakan oleh Edo. Dihati Karmila hanya ingin Faisal seorang yang dicintainya meskipun Edo lah yang yang akan menjadi pendamping hidupnya tapi semua itu dulu. Semua apa yang direncanakan oleh Edo, ingin merebut ingin merbut kembali Karmila dari tangan Faisal dan menghacurkan kebahagiannya semuanya gagal, karena karena kesetiaan dan kasih sayang Faisal terhadap Karmila tidak menjadikan Karmila harus kembali pada Edo. Akhirnya Edo menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu adalah tidak benar, justru dengan kebodohannya itu akan menghancurkan orang yang pernah dicintainya meskipun tidak bersamanya. Edo sadar setelah bertemu dengan Faisal , ternyata dugaannya selama ini salah, justru Faisal sangat mencintai Karmila dengan sepenuh hatinya, akhirnya Edo merelakan orang yang sangat dicintainya bersama lelaki yang dulu pernah menghancurkan kehidupannya.
Pelaku utama dalam novel ini terdiri atas Karmila dan Faisal. Karmila tokoh utama dalam cerita ini, merupakan seorang mahasiswi kedokteran yang sering mengalami musibah. Sebagai seorang dokter Karmila mempunyai sifat baik, sederhana, ramah, sabar, sopan, dan suka menolong pada setiap pasien yang membutuhkan pertolongannya. Pengarang menggambarkan sifat tokoh Karmila yang selalu sabar menerima nasib. Faisal adalah seorang pemuda yang hidup bebas dan pergaulannya pun tidak terbatas. Akibat tidak ada perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya,  Ia terjerumus ke dalam pergulan bebas dan sudah mengenal dan menggunakan obat – obatan terlarang. Akibat dari pengaruh obat-obatan, Ia mempunyai sifat yang urakan dan akibat dari perceraian kedua orang tuanya mengakibatkan sifatnya berubah. Di bagian tengah cerita Faisal mengalami perubahan sikap, setelah menikah dengan karmila, kehidupan Faisal berubah total. Ia menjadi suami yang baik, sayang kepada anak dan istrinya. Tokoh bawahan lainnya, yang ikut memberikan alur cerita novel ini adalah Edo. Digambarkan oleh pengarang bahwa, Edo adalah seorang pemuda yang mencintai Karmila. Karena ia merasa cintanya telah dihianati dan direbut oleh Faisal. Edo menjadi orang yang tak tahu diri, ia terus menerus berusaha meracuni segala pikiran Karmila dengan cerita-cerita bohongnya. Bahkan dipaparkan oleh pengarang bahwa, Edo berusaha dengan berbagai cara untuk menghancurkan kebahagiaan Karmila dengan Faisal. Segala rencana yang dilakukannya gagal dan tidak berhasil merebut kembali cinta Karmila, akhirnya Edo sadar bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik, justru dengan perbuatannya itu akan menghancurkan kehidupan orang yang pernah dicintainya. Akhirnya Edo merelakan orang yang dicintainya hidup bahagia dengan Faisal. Tokoh-tokoh bawahan yang lainnya adalah Ana, Elda , Zein, Mimi, Fani, Sisi dan lain-lainnya tidak ditonjolkan penokohannya oleh pengarang. Tokoh-tokoh tersebut digambarkan sebagai orang-orang yang secara bergantian memberikan suatu masukan atau nasihat dan sebagai tokoh penunjang tokoh utama dalam novel itu.
Tema dari cerita Karmila karya Marga T. adalah percintaan yang mengakibatkan perubahan hidup. Latar tempat kejadian yang terdapat dalam novel Karmila karya Marga T. adalah dirumah Karmila dijalan Kemayoran Baru, rumah Ana, dijalan Thamrin, dan jembatan Semanggi. Latar Waktu yang digunakan dalam cerita ini adalah pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari. Alur dalam novel Karmila ini menampilkan alur cerita yang mengalir, konflik yang dibangun tajam namun tetap realities, alur cerita sesuai dengan tema.. Penggarapan masalah yang disampaikan oleh pengarang dalam novel Karmila diceritakan secara mendalam dari mulai pemunculan masalah sampai penyelesaian masalah. Sudut pandang pada bagian pertama novel ini menggunakan gabungan antara pusat pengisahan ceritanya. Orang pertama yang bercerita dari sudut pandang “Aku”. Sedangkan pada bagian kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan menggunakan pusat mengisahan tokoh bawahan menurutkan cerita tokoh utama dengan sudut pandang “Dia’.
Gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam novel ini adalah bahasa umum, dalam arti lain adalah bahasa sehari-hari. Secara umum ragam bahasa yang digunakan sehari-hari yang maknanya lugas atau sebenarnya. Selain itu, pengarang juga menggunakan ragam bahasa konotatif untuk melukiskan latar atau peranan tokoh.
Amanat yang dapat diambil dari cerita ini adalah kita harus bertanggung jawab akan perbuatan kita, kita harus memperkuat iman kita agar tidak terjerumus kedalam perbuatan dosa, kita harus sabar menghadapi segala masalah yang kita hadapi, orangtua harus menyayangi dan mengasihi anak – anaknya, dan kita harus selalu taat kepada Tuhan.
            Kesimpulan yang dapat ditarik dari novel ini adalah novel ini sangat baik untuk dibaca oleh semua orang, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Banyak sekali hal – hal yang dapat kita contoh dari cerita tersebut.

3 komentar: